RSUD Talang Ubi Beri Kejelasan Usai Diduga Lamban Tangani Pasien DBD

PALI,Sumselgo — Meninggalnya dua kakak beradik, Andika bin Antap Mustopa dan Hulya Elis binti Atap Mustopa, yang disebut akibat Demam Berdarah Dengue (DBD), Selasa (26/8/2026). menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Habibi, selaku Ketua RT 04 yang juga merupakan wartawan yang bertugas di wilayah PALI, menyoroti proses pelayanan dan rujukan pasien di RSUD Talang Ubi. Ia berharap penanganan terhadap pasien, khususnya yang mengalami DBD dan membutuhkan perawatan lanjutan, dapat dilakukan lebih cepat.

“Kita sangat menyayangkan pelayanan Rumah Sakit Talang Ubi yang kurang maksimal. Karena sudah dua hari pasien dirawat, namun menurut pengakuan orang tua almarhum tidak ada perkembangan. Keluarga menunggu, kemudian mendesak untuk meminta rujukan, baru dilakukan rujukan,” kata Habibi.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pelayanan kesehatan di daerah.

“Kami meminta pelayanan rumah sakit lebih cepat tanggap kepada pasien, sehingga kejadian yang menurut kami luar biasa ini tidak terjadi lagi. Apalagi yang meninggal adalah kakak adik karena DBD,” ujarnya.

Habibi juga menilai pasien yang terindikasi DBD membutuhkan perhatian dan pemantauan yang serius dari tenaga medis.

“Seharusnya dokter dan perawat lebih memahami bagaimana penanganan terhadap pasien yang terkena DBD, sehingga pasien bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat,” katanya.

Menurut Habibi, berdasarkan keterangan ayah kedua almarhum, pelayanan yang diterima di RSUD Talang Ubi dirasakan berbeda dibandingkan saat mendapatkan pelayanan di rumah sakit di Muara Enim.

“Menurut cerita ayah kedua almarhum, pelayanan di RS Talang Ubi dirasakan kurang maksimal dibandingkan pelayanan di RS Muara Enim. Ini yang menjadi perhatian kami sebagai masyarakat,” ungkapnya.

Tidak hanya menyoroti pelayanan rumah sakit, Habibi juga langsung melakukan koordinasi dengan Puskesmas Talang Ubi setelah mendapatkan informasi dari pihak keluarga mengenai meninggalnya kedua anak tersebut yang disebut akibat DBD.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Talang Ubi setelah mendapatkan informasi dari keluarga bahwa anaknya meninggal karena DBD,” jelas Habibi.

Koordinasi tersebut mendapat respons dari pihak puskesmas. Petugas kemudian mendatangi lokasi dan membagikan ABT kepada masyarakat. Penyemprotan atau fogging juga dijadwalkan segera dilakukan.

“Alhamdulillah sudah ada respons dari pihak puskesmas. Pagi tadi petugas sudah hadir dan sudah membagikan ABT. Besok akan segera diadakan penyemprotan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Talang Ubi, dr. Ronald Aprinaldi, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan bahwa Hulya sempat mendapatkan perawatan di RSUD Talang Ubi. Pasien kemudian dirujuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Rabain Muara Enim dengan diagnosis DBD.

Dr. Ronald menjelaskan, kondisi Hulya membutuhkan perawatan di ruang PICU. Namun, proses rujukan pasien harus mengikuti mekanisme Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE).

Menurutnya, SISRUTE merupakan sistem yang menghubungkan data pasien secara online antar-fasilitas kesehatan. Sistem tersebut digunakan untuk mengetahui ketersediaan tempat tidur, peralatan medis, serta tenaga kesehatan di rumah sakit tujuan.

Dalam mekanisme tersebut, rumah sakit perujuk terlebih dahulu memasukkan data dan kondisi pasien melalui aplikasi SISRUTE. Selanjutnya, rumah sakit tujuan menerima data dan melakukan pengecekan terhadap ketersediaan kamar, tenaga medis, serta fasilitas yang dibutuhkan.

Setelah itu, rumah sakit tujuan memberikan konfirmasi terkait kesiapan menerima pasien. Pasien kemudian dapat dibawa ke rumah sakit tujuan setelah rujukan mendapatkan persetujuan.

Penjelasan tersebut disampaikan dr. Ronald untuk menjelaskan bahwa proses rujukan pasien, khususnya yang membutuhkan fasilitas PICU, harus melalui tahapan dan konfirmasi antar-fasilitas kesehatan.

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, masyarakat berharap pelayanan terhadap pasien dapat terus dievaluasi, khususnya dalam hal kecepatan penanganan dan proses rujukan bagi pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Kasus meninggalnya dua kakak beradik ini pun menjadi perhatian bersama, tidak hanya terkait pelayanan kesehatan, tetapi juga pentingnya langkah cepat dalam pencegahan penyebaran DBD di lingkungan masyarakat.(Shy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *